Jumat, 05 April 2013

BENCANA ALAM DI INDONESIA (4) DIMENSI MANUSIA




Indonesia Taman Fenomena Geologi
Posisi Indonesia yang unik yang terletak di antara dua benua dan dua samudera, serta di pertemuan interaksi antara tiga Lempeng Kerak Bumi yang utama, membuat Indonesia menjadi “tanam” dari berbagai fenomena dan proses geologi.
Angin monsoon yang silih berganti sepanjang tahun, menghadirkan pula musim hujan dan kemarau yang silih berganti. Musim hujan mendatangkan banjir, dan sebaliknya musim kemarau menghasilkan kekeringan.
Interaksi lempeng kerak bumi yang menjadi bagian dari Kepulauan Indonesia, menghadirkan deretan gunungapi, kawasan pegunungan dan perbukitan. Pegunungan dan perbuykitan memberikan ancaman bahaya longsong atau gerakan tanah di musim hujan.
Perbatasan lempeng kerak bumi yang menghadirkan palung-palung laut dalam, menggoreskan jalur rawan bencana tsunami di sepanjang deretan pulau-pulau mulai dari Sumatera sampai Nusa Tenggara, Papua sampai Sulawesi Utara.
Itulah gambaran singkat tentang potensi bencana di Kepulauan Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan manusianya?
Mengenai hal ini, mari kita simak apa yang ditulis oleh ediotorial Harian Media Indoenesia berikut ini:

INDONESIA dalam banyak hal adalah contoh ekstrem tentang disorientasi terhadap realitas alam. Inilah negara dengan potensi kebencanaan tertinggi di dunia, tetapi di sini hidup subur tabiat kebencanaan yang amat rendah.
Alam dengan seluruh keperkasaan dan determinasinya tidak diupayakan pemahaman, tetapi dilawan dengan segala kekonyolan. Tidak menghiraukan peringatan untuk mengungsi dari rumah kendati Gunung Merapi hendak meletus sehingga berujung kematian, misalnya, merupakan salah satu bentuk kekonyolan itu.
Kekonyolan juga diperlihatkan Gubernur Jakarta Fauzi Bowo. Banjir yang melanda Jakarta dengan intensitas yang bertambah setiap tahun tidak mau diakui sebagai hukuman alam terhadap kerakusan pelanggaran tata ruang, tetapi cuaca ekstrem yang dipersalahkan.
Bencana yang terjadi setiap tahun, dan kali ini serentak dan beruntun, dari Wasior di Papua, Mentawai di Sumatra Barat, hingga Merapi di Yogyakarta, adalah pukulan-pukulan telak terhadap tabiat kebencanaan kita yang amat rendah. Bencana-bencana besar tidak memberi efek pembelajaran apa-apa.
Sebagai negara dengan gunung api aktif terbanyak di dunia, Indonesia sesungguhnya adalah negara dengan masyarakat yang dipaksa siaga 24 jam sepanjang tahun dan sepanjang masa. Tetapi, kita justru hidup di tengah masyarakat dan negara yang bertabiat tenteram aman sentosa.
Coba tengok sistem kedaruratan yang lahir dari manajemen bencana. Negara memiliki Badan Penanggulangan Bencana Nasional dengan kewenangan yang tumpang-tindih. Bencana alam adalah pos anggaran minimalis yang longgar terhadap korupsi. Sejumlah bupati dan gubernur masuk bui karena seenaknya memakai dana bencana.
Negara bencana yang tersebar dalam ribuan pulau seperti Indonesia menuntut pusat-pusat penanggulangan yang tersebar pula, lengkap dengan seluruh fasilitas kedaruratan. Tidak boleh fasilitas kedaruratan itu berada hanya di satu tempat. Kekurangan kantong mayat untuk membungkus 15 korban kapal motor Tersanjung yang tenggelam di perairan utara Flores adalah contoh telanjang tentang manajemen kedaruratan yang tidak tersebar dengan intensitas dan kegawatan yang sama.
Kita terbiasa dengan manajemen kedaruratan post factum. Setelah gunung meletus, banjir menggasak, dan tsunami menyapu, seluruh otoritas bergegas dalam serbakedaruratan dan, umumnya, melebihi dosis.
Para menteri berebutan mengunjungi lokasi, bahkan pada saat yang sama tumpah ruah ke sana. Mentawai sebagai contoh. Pagi dikunjungi Wakil Presiden, sore didatangi Presiden langsung dari luar negeri.
Hari-hari pertama setelah bencana, kita lebih sibuk mencari dan menghitung mayat dan mengabaikan pertolongan pada yang hidup. Media massa berlomba memberitakan angka kematian.
Padahal, yang jauh lebih penting adalah manajemen kedaruratan prabencana (mitigasi bencana). Janganlah membabat hutan. Janganlah melanggar tata ruang. Janganlah membangun rumah di kaki dan pinggang gunung. Janganlah membangun di bantaran sungai dan sejumlah jangan yang lain.
Tetapi, inilah negara yang dikelola dengan semangat lupa waktu dan lupa tempat. Penguasa hanya omong banjir di musim hujan, omong kebakaran di musim panas. Tetapi, lebih banyak lupa dan abai. Lalu ketika bencana datang, dengan gampangnya menyalahkan alam.
Jadi, bencana alam yang menimbulkan kerugian bagi penduduk tidak semata karena proses alam, tetapi juga karena faktor manusia.




Penutup
Sebagai penutup dapat kita katakan bahwa ada bencana alam yang terjadi berulang di Indonesia setiap tahun. Kita dapat memperkirakan rentang waktu terjadinya, dan kawasan yang akan mengalami bencana itu. Menghadapi bencana-bencana itu, pemetaan daerah-daerah yang mungkin terkena bencana-bencana itu merupakan salah satu langkah yang penting.
 

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/28/178215/70/13/Tabiat-Kebencanaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar